
Najla dalam webinar bersama ShopeePay Talk, Jumat (18/6).
Sekitar 2015, ia melihat cinnamon roll cukup ‘hits’ saat itu. Dari sini, ia pun mempromosikan cinnamon roll buatannya lewat media sosial Path.
Saat itu, Path hanya memungkinkan koneksi dengan maksimal 250 orang sehingga audiens memang terbatas. Namun, Najla cukup puas saat sahabat-sahabatnya memberikan respons positif dan mendorong dia untuk menjual cinnamon roll lebih luas.
“Saya coba buka pemesanan [pre-order]. Akhirnya saya dapet 23 loyang, ada peluang. Akhirnya saya mulai kembangkan, enggak cinnamon roll doang, tapi ada bolu jadul, bolu moka, dan kue lain,” katanya.
Setelah 4 bulan pertama usaha, ia belajar untuk mengambil certified baker di Singapura dan Malaysia. Toko harus tutup 3-4 bulan. Namun, ini sepadan dengan ilmu sekaligus ide-ide segar yang kemudian ia terapkan sepulang ke tanah air, termasuk ide dessert box.
Saat Instagram sedang ‘hangat-hangatnya’ digunakan, Najla berinisiatif menggunakan media sosial satu ini untuk berdagang. Ia tidak menyangka, jumlah pengikut yang belum seberapa bisa meraup pesanan lebih dari 100 dessert box.
Tampilan dessert box yang menarik dan komentar positif dari pembeli membuat kudapan ini kian populer.
Bila Anda ingat, popularitas dessert box juga didongkrak promosi dari kalangan influencer. Bahkan kata-kata ‘Seenak itu sampai mau meninggal’ sempat tren hingga digunakan sebagai kalimat sakti saat memberikan testimoni terhadap makanan.
